E-journal

The Influence of Music Therapy Over Delayed Nausea Vomiting As Chemotherapy Effect On School Age Who Suffer Cancer At RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Music therapy is an effecive therapy to reduce delayed nausea vomiting as chemotherapy effect. The purpose of this research is to identify the effect of music therapy over delayed nausea vomiting on school age who suffers for cancer. This research design uses a quasi experimental design with pre-post test control design. It was conducted with consecutive sampling were divided in 15 respondents as intervention group and control group. Music therapy is given for 3 days for 30 minutes duration per day. Result shows there were significant decrease of average nausea vomiting after the intervention group obtain music therapy comparing to control group. The conclusion is music therapy significantly can decrease delayed nausea vomiting as chemotherapy effect on school age who suffered for cancer. It is suggested music therapy is integrated as part of nursing intervention in delivering nursing care over patients who experience nausea vomiting as chemotherapy effect. Key Word Music therapy, chemotherapy, nausea vomiting. Gurney dan Bondy (2006, dalam Hockenberry dan Wilson, 2007) menyebutkan bahwa kasus baru kanker di USA diperkirakan sekitar 12.400 kasus setiap tahun, dengan perkiraan 2300 kematian setiap tahun, sedangkan di Indonesia kurang lebih enam persen atau 13.2 juta jiwa penduduk Indonesia menderita penyakit kanker dan memerlukan pengobatan sejak dini, selain itu di Indonesia, kanker menjadi penyumbang kematian ketiga terbesar setelah penyakit jantung. Angka tersebut hampir sama dengan beberapa negara berkembang lainnya (Depkes RI, 2008). Dengan demikian dilihat dari data tersebut kasus kanker pada anak mengalami peningkatan setiap tahunnya sehingga jumlah anak yang dilakukan kemoterapi kemungkinan juga mengalami peningkatan. Variasi jenis kanker yang terjadi pada anak-anak, berbeda dengan jenis kanker pada orang dewasa. Ditinjau dari klasifikasinya ada 4 jenis kanker pada anak, meliputi leukemia, limfoma, tumor sistem saraf pusat dan tumor padat (Harrera, et al. 2000, dalam Hockenberry dan Wilson, 2007). Diantara jenis kanker tersebut, leukemia merupakan jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada anak-anak, dimana pengobatan leukemia adalah dengan kemoterapi tanpa disertai dengan pembedahan dan radioterapi (Hockenberry & Wilson, 2007), sehingga jumlah anak yang dilakukan kemoterapi relatif banyak, ditambah dengan kasus kanker lain yang juga memerlukan kemoterapi dalam penanganannya. Bagi penderita kanker tidak mudah untuk memutuskan mengikuti kemoterapi karena menimbulkan efek samping yang tidak nyaman. Efek samping yang banyak ditemukan pada anak yang mendapat kemoterapi meliputi depresi sumsum tulang, diare, stomatitis, kehilangan rambut, masalah-masalah kulit serta yang paling sering dirasakan adalah mual muntah dengan derajat yang bervariasi. Diantara berbagai efek samping akibat kemoterapi, mual muntah merupakan efek samping yang menakutkan bagi penderita dan keluarganya. Kondisi ini menyebabkan stress bagi penderita dan keluarga yang terkadang membuat penderita dan keluarga memilih untuk menghentikan siklus terapi, dimana apabila siklus terapi ini dihentikan akan berpotensi mempengaruhi harapan hidup anak. (Hesket, 2008; Smeltzer, et al. 2008). Mual muntah akibat kemoterapi tidak selalu sama diantara beberapa individu. Mual muntah tersebut bisa ringan sampai berat, tergantung agen kemoterapi yang diberikan dan toleransi anak dalam menerima obat tersebut. Bowden, Dickey dan Greenberg (1998) dan Garrett, et all (2003) mengungkapkan bahwa potensi emetik dari agen kemoterapi merupakan stimulus utama terjadinya mual dan muntah yang disebabkan oleh kemoterapi. Menurut Morrow dan Dobkin (2002) menyatakan bahwa ada faktor-faktor risiko yang dapat digunakan untuk memprediksi mual muntah akibat kemoterapi. Faktor-faktor risiko tersebut meliputi usia, jenis kelamin, riwayat mual muntah dan riwayat minum alkohol. Dengan demikian ada beberapa faktor risiko yang dapat menjadi perhatian perawat untuk melakukan tindakan antisipasi sebelum memulai pemberian kemoterapi. Selain adanya toleransi mual muntah, kemoterapi juga dikategorikan dalam tiga jenis berdasarkan waktu terjadinya yaitu acute, delayed, anticipatory. Acute adalah gejala mual muntah yang terjadi kurang dari 24 jam setelah pemberian kemoterapi. Delayed adalah waktu timbulnya gejala mual muntah setelah 24 jam sampai 120 jam setelah pemberian kemoterapi dan biasanya mengikuti fase akut. Anticipatory adalah gejala mual muntah yang terjadi sebelum kemoterapi diberikan (Hasket, 2008; LeMone dan Burke, 2008). Pemberian antiemetik merupakan kunci untuk mengoptimalkan pencegahan dan kontrol mual muntah akibat kemoterapi (Chemotherapy induced nausea and vomitting). Kombinasi obat antiemetik dan modifikasi waktu pemberian, merupakan hal yang efektif dalam membantu terapi anak secara individu untuk mencegah mual muntah (Bowden, Dickey dan Greenberg, 1998). Penelitian yang dilakukan oleh Lee et al (2008) melaporkan bahwa 29% pasien mengalami mual muntah akut dan 47% mengalami mual muntah delayed atau tertunda selama empat hari setelah mendapat kemoterapi, meskipun telah mendapatkan antiemetik regimen terbaru. Adapun batasan mual muntah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah mual muntah lambat (delayed) yaitu mual muntah yang terjadi selambat-lambatnya 24 jam setelah pemberian kemoterapi dan dapat berlangsung sampai 120 jam. Chriss, et al (1985 dalam Grunberg, 2004) melaporkan sekitar 38% pasien mengalami muntah akut setelah diberikan kemoterapi dengan bahan dasar Cisplatin dan 61% mengalami muntah pada hari kedua dan ketiga meskipun telah diberikan Metoklopramide dan Dexamethason pada saat pemberian Cisplatin. Selain itu, Grunberg (2004) menyatakan bahwa 57% pasien mengalami mual dan 41% pasien mengalami muntah pada hari kedua sampai hari kelima setelah pemberian kemoterapi. Dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa kejadian mual muntah yang paling sering dialami oleh pasien terjadi pada 48 jam sampai dengan 72 jam setelah pemberian kemoterapi. Atas dasar itulah maka mual muntah yang akan dibahas dalam penelitian ini hanya mual muntah lambat. Antiemetik yang digunakan untuk mengatasi mual muntah akibat kemoterapi adalah 5-Hydroxytryptamine-3(5HT3), Serotonin Reseptor Antagonis (SRA). Jenis SRA yang paling umum digunakan untuk anak –anak adalah Ondansetron. Disisi lain, antiemetik yang direkomendasikan seperti antagonis 5HT3 dan NK1 adalah obat yang mahal (Molassiotis et al, 2007). Oleh karenanya diperlukan tindakan penunjang berupa terapi komplementer. Lee et al (2008) menyatakan bahwa tindakan penunjang berupa terapi komplementer dapat efektif membantu dalam manajemen mual muntah akibat kemoterapi. Terapi komplementer tersebut berupa relaksasi, guided imagery, distraksi, hipnosis, akupresure, akupuktur dan terapi musik. Selain itu, Ezzone et al (1998) menyimpulkan bahwa musik mempunyai efek bermanfaat menurunkan intensitas mual dan muntah diantara anak yang menderita kanker bila diterapkan bersama dengan pemberian antiemetik. Musik merupakan stimulus yang menyenangkan yang dapat digunakan sebagai distraksi pada pasien yang mendapat kemoterapi. Menurut Djohan (2006) di negara-negara maju khususnya Amerika Serikat, terapi musik telah menjadi bagian dari profesi kesehatan termasuk keperawatan. Pemberian terapi musik diharapkan mampu membuat pasien lebih terfokus pada musik yang didengarnya dan tidak memperhatikan/mengikuti prosedur invasif yang sedang dijalaninya, sehingga pasien merasa rileks dan tenang. (Agyu dan Okoye, 2007). Musik yang sesuai dengan selera pasien selain dapat menciptakan suasana rileks, aman dan menyenangkan juga dapat mempengaruhi sistem limbik dan saraf otonom, sehingga merangsang pelepasan zat kimia gamma aminno butyric acid (GABA), enkefalin dan beta endorphin yang akan mengeliminasi neurotrasmiter rasa nyeri maupun kecemasan, sehingga menciptakan ketenangan dan memperbaiki suasana hati (mood) pasien. (Mucci dan Mucci, 2002). Menggunakan musik untuk mencegah atau mengendalikan mual dan muntah, telah digunakan sebagai metode non-farmakologi (Miller dan Kearney, 2004). Musik yang digunakan untuk mengotrol dan mencegah mual muntah pada saat kemoterapi harus memiliki ritme yang tetap lambat, nada frekuensi rendah dan memiliki efek orkestra yang dapat menenangkan, menghindari frekuensi tinggi dan tajam (Mucci dan Mucci, 2002). Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Standley (2002) melaporkan bahwa pasien mengalami penurunan rasa mual ketika medengarkan musik kesukaannya pada saat prosedur kemoterapi dilakukan. Menurut Ezzone, et al (1998) musik secara signifikan dapat mengurangi mual muntah pada pasien yang sedang menjalani kemoterapi, dimana pada saat itu pasien mendengarkan musik dengan jenis musik sesuai dengan seleranya masing-masing. Selain itu, dalam studinya dikatakan juga bahwa terapi musik dapat diaplikasikan dengan mudah oleh perawat maupun tim medis lainnya. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh terapi musik yang disertai dengan pemberian antiemetik dalam menurunkan mual muntah pada anak yang sedang menjalani kemoterapi. Berdasarkan hal tersebut diatas maka pertanyaan penelitian yang akan dijawab pada penelitian ini adalah “bagaimana pengaruh terapi musik terhadap mual muntah lambat akibat kemoterapi pada anak usia sekolah yang menderita kanker di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung” Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan quasi-experimental design dengan pre-post test control group design untuk membandingkan tindakan yang dilakukan sebelum dan sesudah eksperimen. Pada penelitian ini subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok intervensi musik dan kelompok kontrol (tanpa intervensi musik). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak usia sekolah yang menderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi dan dirawat di ruang rawat inap A1 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Cara pemilihan sampel dalam penelitian ini adalah Concecutive sampling. Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa jumlah sampel minimal adalah 15 responden untuk masing-masing kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 26 April sampai dengan 15 Juni 2010. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara peneliti akan memberikan terapi musik selama tiga hari berturut-turut dengan durasi 30 menit/hari. Terapi musik akan diberikan setelah 24 jam pemberian kemoterapi. Sebelum pemberian terapi musik, peneliti meminta responden/orangtua responden untuk mengisi kuesioner mual muntah setelah 24 jam pemberian kemoterapi untuk mengetahui skor mual muntah sebelum intervensi. Setelah pengukuran mual muntah pertama, kemudian peneliti memberikan terapi musik selama 3 hari berturut-turut dan pada hari terakhir pemberian terapi musik, lalu dihitung kembali mual muntahnya, sedangkan pada kelompok kontrol, terapi musik hanya diberikan pada hari keempat setelah pengukuran mual muntah pertama dan kedua dilakukan. Instrumen penelitian untuk mengukur mual muntah menggunakan Rhodes Index Nausea Vomiting and Retching Instrument (RINVR Instrument) yang akan diisi oleh responden dengan 5 respon skala Likert yaitu 0-4. Untuk memenuhi validitas isi, peneliti melakukan proses back translation (proses penterjemahan instrumen dari Inggris ke Indonesia kemudian dari Indonesia ke Inggris) terhadap instrumen yang digunakan (RINVR). Tujuannya adalah untuk menjamin bahwa alih bahasa yang dibuat peneliti, sesuai dengan isi instrumen yang sebenarnya, mengingat instrumen yang digunakan berbahasa Inggris. Proses back traslation ini dilakukan oleh peneliti dengan bantuan dua orang penterjemah. Dari hasil back translation tersebut didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna mengenai inti dari isi instrumen RINVR tersebut. Kuesioner ini memiliki reliabilitas internal dari 0.90 sampai 0.98 yang diuji dengan Alpha Cronbach (Rhodes dan McDaniel, 2004). Walaupun Instrumen RINVR telah teruji validitas dan reliabilitas, namun peneliti tetap melakukan uji coba pada responden. Instrumen ini telah dilakukan uji coba pada tanggal 23-25 April 2010 terhadap 10 orang responden yaitu anak usia sekolah yang sedang menjalani kemoterapi di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Uji validitas menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dengan r hasil = 0,636 sampai 0,882 yang artinya valid untuk digunakan (r hasil > r tabel; r tabel = 0,632) sedangkan instrumen penelitian diuji reliabilitas dengan menggunakan teknik Cronbach Coefficient Alpha diperoleh hasil sebesar 0,898 artinya secara statistik ke 8 item pertanyaan untuk mengukur mual muntah dianggap realiabel karena lebih besar dari r tabel (0,632). Rata-rata usia responden secara keseluruhan adalah 8,77 tahun dengan standar deviasi 1,99, sebagian responden berjenis kelamin perempuan (60%), sebagian besar responden (70%) memiliki pengalaman mual muntah pada kemoterapi sebelumnya, hampir sebagian responden berada pada lingkungan yang tidak tenang (53,3%), sedangkan untuk agen kemoterapi hampir sebagian responden menggunakan kemoterapi dengan potensi emetik sedang (43,3%), sebagian besar responden (56,7%) menggunakan antiemetik indeks terapi tinggi, dan dilihat dari total keseluruhan yaitu 16,7% responden berada pada siklus ke-2. Karakteristik responden yang terdiri dari usia (p value = 0,797), jenis kelamin (p value = 0,709), pengalaman mual muntah sebelumnya (p value = 0,426), lingkungan (p value = 0,272), jenis kemoterapi (p value = 0,081), jenis antiemetik (p value = 0,461) dan siklus kemoterapi (p value = 0,111). Hasil analisis menunjukkan adanya kesetaraan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Hal ini dibuktikan dengan p value pada masing-masing variabel memiliki nilai lebih besar dari 0,05. p value yang lebih besar dari α (0,05) menunjukkan bahwa semua variabel tersebut homogen antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Serta rata –rata mual muntah pada kelompok intervensi sebelum diberikan terapi musik adalah 13,33 dengan SD = 4,981 dan mual muntah pengukuran I pada kelompok kontrol adalah 8,80 dengan SD= 3,668 (p value = 0,493). Sehingga dari keterangan diatas dapat dianalisis lebih lanjut bahwa skor mual muntah sebelum diberikan terapi musik antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi adalah setara/homogen (p > 0,05). Rata-rata mual muntah pada kelompok yang diberikan terapi musik sebelumnya adalah 13,33 dengan SD= 4,981 dan setelah diberikan terapi musik adalah 7,60 dengan SD = 4,014, sedangkan rata-rata mual muntah pengukuran I pada kelompok yang tidak diberikan terapi musik adalah 8,80 dengan SD = 3,668 dan pengukuran ke 2 setelah hari ke 3 adalah 12,80 dengan SD = 2,757, maka terlihat selisih perbedaan nilai rata-rata mual muntah sebelum dengan setelah diberikan terapi musik pada kelompok intervensi adalah 5,733 (p value = 0,000), sehingga secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan/bermakna rata-rata mual muntah sebelum dengan setelah diberikan terapi musik pada kelompok intervensi, hal ini dibuktikan dengan nilai p value yang lebih kecil dari α (0,05). Serta rata-rata mual muntah setelah diberikan terapi musik pada kelompok intervensi adalah 7,60 dengan SD = 4,014 dan kelompok yang tidak mendapatkan terapi musik mual muntahnya adalah 12,80 dengan SD = 2,757 (p value = 0,000), sehingga dapat dianalisa bahwa rata-rata mual muntah setelah pemberian terapi musik menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna/signifikan antara kelompok yang diberikan terapi musik dengan kelompok yang tidak diberikan terapi musik, hal ini dibuktikan dengan nilai p value yang lebih kecil dari α (0,05). 2. PEMBAHASAN Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa usia responden paling rendah adalah 6 tahun dan maksimum berusia 12 tahun. Rata-rata usia responden secara keseluruhan adalah 8,77 tahun. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Lee et al (2008) yang menyatakan bahwa insiden kanker pada anak antara tahun 2004-2007 di Amerika, menunjukkan bahwa insiden kanker pada kelompok anak-anak (usia 6-12 tahun) mengalami peningkatan setiap tahunnya (Lee, et al, 2008). Usia anak yang digunakan pada penelitian ini juga sama dengan usia anak yang digunakan pada penelitian Barrera, Rykov dan Doyle (2002) yang melakukan penelitian pada anak kanker sebanyak 65 orang, dimana mayoritas usia responden berusia 6-12 tahun (52%). Selain itu Brodsky (1989) melakukan penelitian pada anak yang berusia 5 -12 tahun yang bertujuan untuk mengidentifikasi efektifitas terapi musik dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas verbal anak yang menderita kanker di ruang isolasi. Pada penelitian itu disampaikan bahwa pemilihan sampel berusia 5-12 tahun dikarena terapi komplementer yang paling sesuai dan efektif untuk memberikan kenyamanan pada anak usia sekolah adalah terapi musik. Peneliti menyimpulkan bahwa usia anak yang efektif untuk dijadikan sebagai sampel penelitian pada terapi musik untuk mengurangi mual muntah akibat kemoterapi adalah anak berusia 6 – 12 tahun (usia sekolah). Pendapat itu didukung oleh Hockenberry (1988) bahwa teknik distraksi/relaksasi yang sesuai untuk anak usia sekolah adalah terapi musik, bercerita tentang tempat-tempat favorit, dan menonton televisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu 60%. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Roscoe, et al (2003) dan Chi-Ting et al (2005). Penelitian Roscoe et al bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh akupresure dan akustimulasi terhadap mual muntah akibat kemoterapi, dilakukan pada sebanyak 92% responden berjenis kelamin perempuan sedangkan sisanya (8%) berjenis kelamin laki-laki. Sementara penelitian yang dilakukan Chi-Ting et al dilakukan pada responden perempuan sebanyak 76% dan sisanya (24%) adalah responden laki-laki. Dalam kedua penelitian tersebut, sebagian besar responden adalah penderita kanker dengan jenis kelamin mayoritas adalah perempuan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki riwayat mual muntah pada kemoterapi sebelumnya (70%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Frank (1985). Frank mengambil sampel sebanyak 88 orang dan dari sampel tersebut didapatkan bahwa sebagian besar responden 65 orang (73,8%) memiliki pengalaman mual muntah pada kemoterapi sebelumnya, sehingga peneliti berpandangan bahwa anak dengan riwayat mual muntah sebelumnya berisiko mengalami mual muntah pada kemoterapi selanjutnya yang merupakan pengaruh dari faktor risiko individu. Hasil tersebut didukung oleh Perwitasari (2006) yang menyatakan bahwa kemoterapi menimbulkan efek mual muntah baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Diantara berbagai efek samping akibat kemoterapi, mual muntah merupakan efek samping yang menakutkan bagi penderita dan keluarganya. Selain itu, Rhodes dan Mc.Daniel (2004) menyebutkan bahwa mual dan muntah masih menjadi hal yang paling menimbulkan stres diantara efek samping kemoterapi yang lain, meskipun perkembangan agen antiemetik saat ini lebih efektif. Pada penelitian ini, peneliti mendapatkan bahwa sebagian besar anak memiliki riwayat mual muntah pada kemoterapi sebelumnya (70%), namun bila dilihat lebih lanjut ada sebagian kecil anak yang tidak memiliki pengalaman mual muntah pada kemoterapi sebelumnya (30%). Dengan demikian tidak semua anak memiliki riwayat/pengalaman mual muntah pada kemoterapi sebelumnya. Hasil penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar responden (53,3%) berada pada lingkungan yang tidak tenang. Lingkungan yang tidak tenang akan mempengaruhi kenyamanan responden pada saat terapi musik diberikan dan dapat menjadi stresor pada anak, dimana stresor ini akan mempengaruhi kecemasan pada saat prosedur kemoterapi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ferrer (2000). Penelitian Ferrer yang mencoba melihat efektifitas live music yang familiar terhadap tingkat kecemasan pada pasien yang sedang menjalani kemoterapi menunjukkan sebagian besar responden 32 orang (64%) berada pada lingkungan yang tidak tenang dan 18 orang (32%) berada pada lingkungan yang tenang. Hasil akhir penelitian itu adalah terdapat perbedaan penurunan kecemasan antara responden yang mendapat terapi musik antara yang berada di lingkungan tenang dengan yang berada di lingkungan tidak tenang ( p < 0,05). Hal tersebut didukung oleh Hockenberry dan Wilson (2007) yang menjelaskan bahwa lingkungan yang tidak tenang, adanya alat-alat dan situasi ruangan serta orang-orang asing diruang rawat, diketahui dapat menjadi stresor akibat hospitalisasi pada anak, dimana stresor ini dapat mempengaruhi kecemasan dan kondisi psikologis anak selama perawatan dirumah sakit. Tingkat kecemasan/stres yang berat dapat mempengaruhi kondisi fisik akibat perubahan hormonal yang dapat dilihat dari perubahan tanda vital, berupa perubahan denyut nadi pada anak. Penelitian yang dilakukan oleh Brodsky (1989) bertujuan untuk mengidentifikasi efektifitas terapi musik dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas verbal pada anak usia 5-12 tahun yang menderita kanker di ruang isolasi, didapatkan bahwa seluruh responden (100%) berada pada lingkungan isolasi yang sangat tenang, bersih dan terbebas dari pemandangan serta bau yang tidak sedap. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang diberikan terapi musik di ruang isolasi mengalami peningkatan kuantitas dan kualitas verbal dalam mengungkapkan emosi dan perasaannya (p value = 0,006). Hal tersebut didukung oleh Bowden et al (1998) yang menyatakan bahwa lingkungan ruang rawat yang bebas dari pemandangan dan bau yang tidak sedap, diketahui dapat mencegah mual muntah akibat kemoterapi. Pada penelitian ini ditemukan bahwa hampir sebagian responden menggunakan kemoterapi dengan potensi emetik sedang (43,3%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Dibble et al (2003) dilakukan pada sebagian besar (76%) responden yang mendapatkan kemoterapi dengan emetogenik sedang, 15% responden yang mendapatkan kemoterapi dengan derajat emetogenik berat, sedangkan sisanya (9%) dengan derajat emetogenik yang lain dan Dibble et al (2007) adalah penelitian random klinis tentang pengaruh akupresure tentang mual muntah akibat kemoterapi yang dilakukan pada 76% responden yang menggunakan kemoterapi kombinasi Ciclophospahmide dan Doxorubicin. Kombinasi tersebut merupakan kemoterapi derajat emetogenik sedang. Sementara sisanya (24%) menggunakan kemoterapi dengan derajat emetogenik yang lebih rendah. Temuan pada penelitian yang dilakukan peneliti juga didukung oleh penelitian Frank (1985). Dalam penelitian tersebut hampir semua responden (87%) menggunakan regimen kombinasi Cycloposphamide dan Carboplatin yang tergolong kedalam kemoterapi emetogenik sedang. Sementara penelitian Standley (1992) bertujuan untuk mengidentifikasi aplikasi terapi musik terhadap mual muntah akibat kemoterapi sebanyak 52,3% responden mendapatkan kemoterapi kombinasi Carboplatin dan Cyclophosphamide yang tergolong kedalam kemoterapi emetogenik sedang, sebanyak 32.7% responden mendapatkan kombinasi 5FU, Epirubicin dan Cyclophosphamide. Sementara 15% lainnya menggunakan kombinasi kemoterapi Epirubicin dan CMF. Beberapa penelitian diatas, sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam derajat emetogenik kemoterapi yang digunakan yaitu derajat emetogenik sedang. Menurut analisa peneliti, hal ini terjadi karena regimen kemoterapi yang didapatkan responden merupakan kemoterapi kombinasi yang dapat menyebabkan emetogenik kemoterapi juga meningkat dibandingkan dengan kemoterapi tunggal. Ignatavicius dan Workman (2006) dan Bradburry (2004) mengatakan kemoterapi kombinasi lebih efektif daripada agen sitotoksik tunggal, tetapi beberapa kombinasi obat kemoterapi menimbulkan derajat emetogenik yang lebih tinggi daripada dosis tunggal. Pada penelitian ini ditemukan bahwa sebagian besar responden (56,7%) menggunakan antiemetik dengan indeks terapi tinggi. Penelitian lain yang sejalan dengan temuan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Molassiotis, et al (2007), semua responden penelitian diberikan antiemetik dari golongan antagonis reseptor 5HT3 yang dikombinasikan dengan Dexamethasone yang merupakan antiemetik dari golongan indeks terapi tinggi. Penelitian yang senada adalah penelitian Chi, et al (2005) untuk mengidentifikasi insiden mual muntah akibat kemoterapi pada pasien kanker di Taiwan. Penelitian tersebut juga menggunakan antiemetik dari golongan anatagonis resptor 5HT3 dari golongan indeks terapi tinggi (77%). Penelitian yang dilakukan oleh Frank (1985) juga sejalan dengan temuan pada penelitian ini. Frank menggunakan antiemetik dengan indeks terapi tinggi yaitu kombinasi Anatagonis Reseptor 5HT3 dan Dexamethasone (100%). Penelitian yang dilakukan Standley (1992) untuk mengevaluasi aplikasi musik terapi terhadap mual muntah akibat kemoterapi juga menggunakan antiemetik dengan indeks terapi tinggi yaitu Ondansentron (100%). Berdasarkan pemaparan beberapa penelitian diatas, peneliti mendapatkan kesimpulan bahwa temuan pada penelitian ini memiliki karakteristik yang sama dengan penelitian-penelitian sebelumnya dalam hal pemakaian antiemetik yaitu menggunakan anatiemetik dengan indeks terapi tinggi. Responden dalam penelitian ini, sebagian besar (56,7%) menggunakan antiemetik dengan indeks terapi tinggi yaitu Odansentron. Menurut analisis peneliti, penggunaan antiemetik dengan indeks terapi tinggi pada semua responden disebabkan protokol terapi yang disesuaikan dengan derajat emetogenik kemoterapi yang didapatkan oleh responden. Penggunaan antiemetik pada kemoterapi dengan derajat emetogenik sedang dan tinggi adalah dengan pemberian kombinasi antagonis reseptor 5HT3 dengan kortikosteroid atau dengan hanya pemberian obat golongan antagonis reseptor 5HT3. Analisa peneliti tersebut didukung oleh rekomendasi dari berbagai Perhimpunan Onkologi diantaranya NCCN (2008) yang mengatakan bahwa penggunaan antiemetik pada kemoterapi dengan derajat emetogenik sedang dan tinggi adalah dengan pemberian kombinasi Reseptor 5HT3 dengan Kortikosteroid. Selain itu analisa peneliti tentang penggunaan antiemetik dengan indeks terapi tinggi juga didukung oleh Bradburry (2004) yang menjelaskan bahwa pemberian antiemetik disesuaikan dengan emetogenik kemoterapi, obat dengan emetogenik yang tinggi dan sedang diberikan kombinasi reseptor 5HT3 dengan kortikosteroid. Antagonis Reseptor 5HT3 merupakan pilihan yang paling sering digunakan untuk menurunkan CINV (Chemotherapy Induced Nausea Vomiting). Ondansentron merupakan salah satu obat dari golongan tersebut yang mempunyai kemampuan yang lebih untuk memblok resptor serotonin (Bradburry, 2004). Dalam penelitian ini peneliti menemukan bahwa sebagian besar responden (56,7%) menggunakan antiemetik dengan indeks terapi tinggi yaitu Odansentron. Ondansentron merupakan agen antiemetik yang diketahui efektif untuk mencegah dan mengatasi mual muntah akibat kemoterapi (Garret, et al 2003). Dengan demikian hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian antiemetik yang telah dijadikan standar dalam penanganan anak dengan kemoterapi memberikan pengaruh yang besar dalam meminimalkan efek samping khususnya mual muntah akibat kemoterapi. Pada penelitian ini ditemukan bahwa sebagian responden (16,7%) berada pada siklus kedua, sisanya bervariasi dari siklus ke 1 sampai siklus ke 27. Keanekaragaman siklus kemoterapi pada pasien kanker disesuaikan dengan jenis kanker/diagnosa kanker itu sendiri, setiap jenis kanker memiliki protokol standar kemoterapi masing-masing. Penelitian sebelumnya yang mendukung hasil penelitian ini adalah yang dilakukan oleh Dibble, et al (2007) yang mencoba mengindentifikasi pengaruh akupresure terhadap mual muntah akibat kemoterapi pada pasien kanker yang mendapat kemoterapi. Penelitian tersebut dilakukan pada responden pada siklus kedua dan ketiga kemoterapi. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Frank (1985) dilakukan pada responden pada siklus kedua dan ketiga kemoterapi. Menurut analisa peneliti, penetapan responden penelitian berada pada siklus kedua dan ketiga adalah untuk mendapatkan keseragaman atau kemiripan siklus kemoterapi karena dikhawatirkan menjadi variabel perancu terhadap hasil yang didapatkan. Pada dasarnya siklus kemoterapi mempengaruhi mual muntah pasien yang mendapatkan kemoterapi. Analisa peneliti tersebut didukung oleh pendapat Grunberg dan Ireland (2005) yang mengatakan bahwa mual muntah akibat kemoterapi dipengaruhi oleh siklus kemoterapi, semakin tinggi siklus kemoterapi biasanya mual muntah semakin hebat. Berdasarkan beberapa penelitian diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa masing-masing penelitian memiliki perbedaan karakteristik responden dari siklus kemoterapi. Akan tetapi pada setiap penelitian didapatkan siklus kemoterapi yang hampir sama atau sama pada semua responden. Hal ini terjadi karena kemungkinan peneliti ingin melakukan penelitian dengan kondisi siklus kemoterapi yang homogen, pada penelitian ini juga peneliti menemukan bahwa siklus kemoterapi pada responden berada pada kondisi yang sama atau homogen, sehingga hasil yang diperoleh tidak dipengaruhi oleh siklus kemoterapi responden melainkan benar-benar efek dari intervensi yang diberikan. Mengingat pada dasarnya siklus kemoterapi mempengaruhi mual muntah akibat kemoterapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor mual muntah setelah diberikan terapi musik berbeda secara signifikan antara kelompok yang diberikan terapi musik dengan kelompok yang tidak diberikan terapi musik (p value = 0,000). Hasil penelitian mendukung hipotesis penelitian yaitu ada perbedaan mual muntah sebelum dan sesudah dilakukannya terapi musik pada kelompok intervensi. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa terapi musik yang dilakukan pada kelompok intervensi dapat menurunkan skor mual muntah sebesar 5,733. Penelitian sebelumnya yang sejalan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Ezzone, et al (1998). Kelompok kontrol terdiri dari 17 orang, kelompok ini hanya mendapat antiemetik sesuai dengan protokol, sedangkan kelompok intervensi terdiri dari 16 orang, dimana kelompok ini mendapatkan antiemetik dan diberikan terapi musik sesuai dengan seleranya masing-masing selama 48 jam pada saat pemberian kemoterapi dengan menggunakan Cyclophosphamide dosis tinggi. Hasil akhir menunjukkan bahwa responden yang diberikan terapi musik mengalami penurunan mual muntah yang signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol ( p < 0,05). Ezzone, et al (1998) memberikan kesimpulan bahwa terapi musik efektif dilakukan untuk menurunkan mual muntah akibat kemoterapi serta musik diketahui dapat menjadi pengalih perhatian yang efektif dalam manajemen mual muntah yang disebabkan oleh kemoterapi, mengurangi distress pada anak-anak yang menjalani kemoterapi. Hasil penelitian lain yang mendukung temuan dari penelitian ini adalah penelitian Mc.Donald (2001). Penelitian tersebut membandingkan mual dan muntah pada 140 responden wanita yang mendapat kemoterapi karena kanker payudara. Responden dibagi menjadi kedalam dua kelompok yaitu kelompok intervensi yang mendapatkan terapi musik selama 5 hari dan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan terapi musik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan intensitas mual dan muntah yang signifikan pada kelompok yang mendapatkan terapi musik dengan kelompok yang tidak mendapatkan terapi musik (p value = 0,001). Kesimpulan penelitian Mc.Donald (2001) bahwa terapi musik efektif menurunkan mual muntah akibat kemoterapi. Penelitian lain yang sejalan dengan hasil penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Frank (1985) yang bertujuan untuk mengevaluasi efektifitas terapi musik dan Guided Visual Imagery terhadap tingkat kecemasan dan tingkat serta durasi mual muntah akibat kemoterapi. Hasil akhir pada penelitian tersebut menjelaskan bahwa terdapat penurunan rata-rata mual muntah dari 10,4 menjadi 7,1 pada kelompok intervensi yang mendapatkan terapi musik. Dari paparan penelitian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa terapi musik efektif untuk menurunkan mual muntah akibat kemoterapi baik pada anak maupun dewasa, selain itu terapi musik merupakan salah satu tindakan yang tepat dalam manajemen mual muntah akibat kemoterapi. Hal tersebut didukung oleh Tuner (2010) bahwa terapi musik dapat menurunkan mual muntah karena ketika dimainkan akan menghasilkan stimulus yang dikirim dari akson-akson serabut sensori asenden ke neuron-neuron dari Reticular Activating System (RAS). Stimulus kemudian ditransmisikan oleh nuclei spesifik dari thalamus melewati area-area korteks cerebral, sistem limbik dan korpus collosum dan melewati area-area sistem saraf otonom dan sistem neuroendokrin. Sistem saraf otonom berisi saraf simpatis dan parasimpatis. Musik dapat memberikan rangsangan pada saraf simpatik dan saraf parasimpatik untuk menghasilkan respon relaksasi. Karakteristik respon relaksasi yang ditimbulkan berupa penurunan frekuensi nadi, relaksasi otot, tidur, dengan adanya respon relaksasi maka mual muntah dapat diminimalisir. Musik sebagai teknik yang digunakan selain untuk penyembuhan suatu penyakit juga dapat menurunkan kecemasan melalui bunyi atau irama tertentu, dengan mendengarkan musik, perhatian anak akan teralihkan, anak tidak fokus terhadap prosedur kemoterapi yang sedang diberikan sehigga dapat meminimalisir mual muntah akibat kemoterapi. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Guzzeta (1999) dimana musik dapat memberikan pengalihan dan memperkecil pengaruh bunyi-bunyi yang berpotensi mengganggu pada pasien anak-anak, pasien yang menjalani berbagai prosedur pembedahan, pasien unit perawatan jantung dan pasien Intensive Care Unit yang terpasang ventilator. Musik juga dapat berperan sebagai suatu teknik distraksi yang kuat. Intervensi musik memberikan suatu stimulus yang meningkatkan rasa nyaman yang dapat menimbulkan sensasi menyenangkan pada pasien karena lebih memfokuskan perhatiannya kepada musik daripada pikiran-pikiran yang menegangkan atau stimulus lingkungan lainnya (Snyder dan Lindquist, 2002). Dari beberapa penelitian diatas, peneliti dapat menyimpulkan terapi musik telah dibuktikan efektif untuk menurunkan mual muntah akibat kemoterapi melalui beberapa penelitian, sehingga dapat dijadikan rekomendasi untuk dilakukan alternatif intervensi keperawatan dalam menurunkan mual muntah akibat kemoterapi. Berdasarkan penemuan tersebut, diharapkan agar terapi musik dapat diaplikasikan untuk membantu anak dengan kanker dalam rangka menurunkan mual muntah akibat kemoterapi. a. Karaktersitik dari 30 responden, meliputi rata-rata usia responden 8,77 tahun, sebagian besar berjenis kelamin perempuan (60%) dan memiliki riwayat pengalaman mual muntah sebelumnya (70%), 53,3% responden berada pada lingkungan yang tidak tenang, 43,3% menggunakan kemoterapi dengan derajat emetogenik sedang, 56,7% responden menggunakan antiemetik dengan indeks terapi tinggi dan 16,7% responden pada siklus kedua. b. Terdapat perbedaan rata-rata skor mual muntah sebelum (13,33) dan sesudah (7,60) dilakukan terapi musik pada kelompok intervensi. c. Perbedaan rata-rata skor mual muntah setelah dilakukan terapi musik pada kelompok intervensi lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol ( p value = 0,000; α = 0,05; p < α) Mengembangkan program seminar dan pelatihan tentang terapi musik dan menyusun standar operasional terapi musik sebagai asuhan keperawatan pada anak kanker yang mengalami mual muntah akibat kemoterapi. Perlunya penelitian tentang metode relaksasi atau distraksi yang lain untuk menurunkan mual muntah lambat pada anak dengan kanker. 1. Agyu, K.K., & Okoye, I.J. (2007). The effect of music on the anxiety levels of patients undergoing hysterosalpingography. Radiography Journal, 13(2), 122-125. 2. Bowden, V.R., Dickey, S.B., & Greenberg, S.C. (1998). Children and their families: The continuum of care. Philadelphia: W.B. Saunders Company. 3. Bradburry, R. (2004). Optimizing antiemetic therapy for children-induced nausea (http://theoncologist.alphamedpress.org/cgi/content/full/8/1/35., diakses tanggal 20 April 2010 jam 10.00 WIB) 4. Barrera, E.M., Rykov, H.M & Doyle, L.S. (2002). The effects of interactive music therapy on hospitalized children with cancer. Psycho Oncology, (11), 379-388. 5. Brodsky, W. (1989). Music therapy as an intervention for children with cancer in 6. Ching-Ting, L., Nei-Min, C., Hsueh-Erh, C., Robert, D., Jade, I., & Jen-Shi, C. (2005). Incidence of chemotherapy-induced nausea and vomiting in Taiwan : Physicians outcomes,(online),(http://cat.inist.fr/?aModele=afficheN&cpsidt., diakses tanggal 20 April 2010 jam 20.00 WIB) 7. Djohan. (2006). Terapi Musik. Yogyakarta: Galangpres. 8. Depkes RI. (2008). Enam persen penduduk RI menderita kanker oleh Depkes RI, (online), (http://www.depkes.go.id. Diakses tanggal 15 Desember, 2009 jam 05.00) 9. Dibble, S.L., Luce, J., Cooper, B.A., & Israel, J. (2007). Acupressure for chemotherapy-induced nausea and vomiting : A randomized Clinical Trial. Oncology Nursing Forum, 34 (4), 813-820 Ezzone, S., Baker, C., Rosselet, R., & Terepka, E. (1998). Music as an adjunct to antiemetic therapy. Oncology Nursing Journal, 25(9), 1551-6 Frank,J. (1985). The effects of music therapy and guided visual imagery on chemotherapy induced nausea and vomiting. Oncology Nurs Forum, 12, 47-52. Ferrer, A.J. (2000). The effect of live music on decreasing anxiety in patients undergoing chemotherapy treatment. Music Ther, (21), 126-132. Garrett, K., Tsuruta, K., Walker, S., Jackson, S., & Sweat, M. (2003). Managing nausea and vomiting. Critical Care Nurse, 23 (1), 31-50. Guzzeta, C. (1999). Effects of relaxation and music therapy on patients in a coronary care unit with preasumptive acute myocardial infarction. Hearth & Lung, 18(5), 609-616. Grunberg, S.M. (2004). Chemotherapy induced nausea vomiting: Prevention, detection and treatment- how are we doing?. The Journal of Supportive Oncology, 2(1), 1-12. Grunberg, S.M., & Ireland, A. (2005). Epidemiology of chemotherapy induced nausea and vomiting. Advanced Studies in Nursing, 3(1), 9-15. Hockenberry, M., & Wilson, D. (2007). Wong’s nursing care of infants and Hockenberry, J.M. (1988). Relaxation techniques in children with cancer: The nurse’s role. Journal of Pediatric Oncology Nursing, 5(1), 5-7 Hesket, P.J. (2008). Chemotherapy induced nausea and vomiting. The New England Journal of Medicine, 358(23), 2482-2494. Ignatavicius, D.D., & Workman. M. (2006). Medical surgical nursing: Critical thinking for collaborative care. (5th ed). Philadelphia: W.B. Saunders Company. Karsono, B. (2006). Aspek selular dan molekular kanker, dalam Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., & Setiati, S. (2006). Buku Ajar ilmu penyakit dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Lee, J., Dodd, M., Dibble, S., & Abrams, D. (2008). Review of acupresssure studies for chemotherapy-induced nausea and vomiting control. Journal of Pain and Symptom Management, 36(5), 529-544. LeMone, P., & Burke, K. (2008). Medical surgical nursing: Critical thinking in client care. (4th ed). USA: Pearson Prentice Hall. Morrow, G.R., & Dobkin, P.L. (2002). Anticipatory nausea and vomiting in cancer patients undergoing chemotherapy treatment prevalence, etiology, and behavioral interventions. Clinical Psychology Review, 8(5), 517-556. Molassiotis, A., Helin, A. M., Dabbour, R., & Hummerstone, S. (2007). The effects of P6 acupressure in the profilaksis of chemotherapy related nausea and vomiting in breast cancer patients. Complementary Therapies in Medicine, 15(1), 3-12. Miller, M., & Kearney, N. (2004). Chemotherapy related nausea vomiting: Past reflections, present practice, and future management. European Journal of Cancer, 13(10), 71-81. McDonald, J.M. (2001). The effect of music on chemotherapy-induced nausea, vomiting, and retching, (online),(http://www.proquest.com. Diakses tanggal 23 Januari, 2010 Jam 11.00 WIB) Mucci.K., & Mucci.R. (2002). The healing sound of music: manfaat musik untuk kesembuhan, kesehatan dan kebahagiaan anda. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Rhodes, V.A., & Mc Daniel, R.W. (2004). Nausea, vomiting, and retching: Complex problems in palliative care. CA Cancer Journal Clinic, 51(4), 232-248. Roscoe, J.A., Morrow, G.R., Hickok, J.T., Bushunow, P., Pierce, H.I., Flynn, P.J., et al. (2003). The efficacy of Smeltzer, S.C., Bare, B.G., Hinkle, J.L., & Cheevar, K,H. (2008). Textbook of medical surgical nursing. (11th ed). Brunner, & Suddarth’s. Philadhelpia: Lippincott Williams & Wilkins, a Wolter Kluwer Bussiness. Snyder, M., & Lindquist, R. (2002). Complementary/alternative therapies in nursing. (4th ed). Springer Publishing Company. Standley, J.M. (1992). Clinical applications of music and chemotherapy : the effects on nausea and emesis. Music Therapy Perspective, 10, 27-35.

Source: http://www.stikesayani.ac.id/publikasi/e-journal/files/2012/201212/201212-006.pdf

Microsoft word - spiralle-2010.doc

Spirale® DDS Spirale® DDS is the smart way to deliver aerosolised micro-drug particles from an MDI (metered dose inhaler) canister into a respiratory breathing circuit during anaesthesia or intensive care ventilation in the spontaneously breathing or ventilated patient. • Product Features Avoids disruption to ventilation settings • Clinical Efficacy Clinical efficacy of MDI

nervenklinik.uk-wuerzburg.de

Case Report Received: August 28, 2002Accepted: April 10, 2003 Delusional Paralysis: An Unusual Variant of Cotard’s Syndrome Andreas Reif Waldemar M. Murach Bruno PfuhlmannDepartment of Psychiatry and Psychotherapy, University of Würzburg, Würzburg, Germany Key Words drome: anxious melancholy, ideas of damnation or pos-Coenaesthesic hallucination W Cotard’s syndrome Wsession, a te

Copyright © 2010 Health Drug Pdf